Keluarga Korban BMW Maut Muhammad Rasyid Amirullah Teken Surat Damai di RS
pada tanggal
Rabu, 02 Januari 2013
Edit
Keluarga seorang korban tabrakan BMW maut di tol Jagorawi mengaku sudah menandatangani surat pernyataan damai dengan pihak Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. Pihak korban menyatakan tidak akan menuntut secara hukum si penabrak, Muhammad Rasyid Amirullah, putra bungsu Hatta.
Menurut Ujang Sukardi, 44 tahun, perwakilan keluarga Muhammad Raihan, yang tewas dalam kecelakaan, ia sudah membubuhkan tanda tangan dalam surat pernyataan bermaterai Rp 6.000. Dalam surat yang disodorkan ajudan Hatta Rajasa bernama Asep itu, disebutkan, kasus diselesaikan secara kekeluargaan. Keluarga korban setuju tak akan mengajukan tuntutan kepada pengemudi BMW maut.
"Penandatanganan dilakukan di rumah sakit. Saya yang mewakili keluarga. Dari pihak mereka, ditandatangani ajudan Pak Hatta," kata Sukardi ketika ditemui Tempo di rumah duka, di Kampung Ciaul, Kabandungan, Sukabumi, Rabu, 2 Januari 2013.
Paman dari almarhum Raihan ini mengatakan, dalam surat pernyataan disebutkan bahwa pihak Hatta Rajasa bertanggung jawab penuh membayar biaya perawatan orang tua Raihan, Enung dan Suherman, serta kakaknya, Rival. Segala biaya pengobatan hingga sembuh akan ditanggung oleh Hatta Rajasa.
"Termasuk biaya pemakaman sampai tahlilan 100 hari Raihan akan ditanggung pihak Pak Hatta. Mereka juga berjanji mengurus uang asuransi Jasa Raharja. Bila saya datang, katanya dua jam langsung cair,” ujar Sukardi.
Sukardi memastikan kesepakatan menyelesaikan secara kekeluargaan musibah itu bukan karena ditekan atau dipaksa pihak Hatta Rajasa. Dia menandatangani surat pernyataan karena diminta oleh adiknya, Suherman.
"Pernyataan saya tanda tangan atas permintaan adik saya untuk berdamai. Saya datang ke rumah sakit, dan adik saya bilang diselesaikan secara kekeluargaan. Karena kejadian ini musibah yang tidak dikehendaki semua pihak,” ujarnya.
Selesai menandatangani surat pernyataan, ia dibantu pihak Hatta Rajasa langsung mengurus jenazah Raihan. Malam itu juga, Raihan dibawa dengan mobil ambulans ke rumah duka. »Saya hanya ketemu ajudan Pak Hatta. Waktu saya sudah pulang membawa jenazah, Pak Hatta datang ke rumah sakit menengok korban yang masih dirawat.”
Menurut Ujang Sukardi, 44 tahun, perwakilan keluarga Muhammad Raihan, yang tewas dalam kecelakaan, ia sudah membubuhkan tanda tangan dalam surat pernyataan bermaterai Rp 6.000. Dalam surat yang disodorkan ajudan Hatta Rajasa bernama Asep itu, disebutkan, kasus diselesaikan secara kekeluargaan. Keluarga korban setuju tak akan mengajukan tuntutan kepada pengemudi BMW maut.
"Penandatanganan dilakukan di rumah sakit. Saya yang mewakili keluarga. Dari pihak mereka, ditandatangani ajudan Pak Hatta," kata Sukardi ketika ditemui Tempo di rumah duka, di Kampung Ciaul, Kabandungan, Sukabumi, Rabu, 2 Januari 2013.
Paman dari almarhum Raihan ini mengatakan, dalam surat pernyataan disebutkan bahwa pihak Hatta Rajasa bertanggung jawab penuh membayar biaya perawatan orang tua Raihan, Enung dan Suherman, serta kakaknya, Rival. Segala biaya pengobatan hingga sembuh akan ditanggung oleh Hatta Rajasa.
"Termasuk biaya pemakaman sampai tahlilan 100 hari Raihan akan ditanggung pihak Pak Hatta. Mereka juga berjanji mengurus uang asuransi Jasa Raharja. Bila saya datang, katanya dua jam langsung cair,” ujar Sukardi.
Sukardi memastikan kesepakatan menyelesaikan secara kekeluargaan musibah itu bukan karena ditekan atau dipaksa pihak Hatta Rajasa. Dia menandatangani surat pernyataan karena diminta oleh adiknya, Suherman.
"Pernyataan saya tanda tangan atas permintaan adik saya untuk berdamai. Saya datang ke rumah sakit, dan adik saya bilang diselesaikan secara kekeluargaan. Karena kejadian ini musibah yang tidak dikehendaki semua pihak,” ujarnya.
Selesai menandatangani surat pernyataan, ia dibantu pihak Hatta Rajasa langsung mengurus jenazah Raihan. Malam itu juga, Raihan dibawa dengan mobil ambulans ke rumah duka. »Saya hanya ketemu ajudan Pak Hatta. Waktu saya sudah pulang membawa jenazah, Pak Hatta datang ke rumah sakit menengok korban yang masih dirawat.”
